Program Konservasi Breeding Jalak Putih (Sturnus melanopterus)

Program Konservasi Breeding Jalak Putih (Sturnus melanopterus)

Ada sekitar 26 spesies burung dari kelompok jalak jalakan (Sturnidae) dari 1.598 spesies burung di Indonesia. Dua spesies burung jalak di antaranya yaitu Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan Jalak Putih (Sturnus melanopterus) merupakan spesies burung endemik Indonesia dengan status satwa yang dilindungi di Indonesia serta keterancamannya dikelompokkan “Kritis” (Critical Endangered) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature). Alasan perlindungan dan keterancamannya dikarenakan kondisi populasi di alam kurang dari 100 individu dan daerah persebarannya yang tidak terlalu luas.

Saat ini, populasi Jalak Bali di habitat alaminya hanya ada di kawasan Taman Nasional Bali Barat dengan menyisakan kurang dari 20 individu, dan yang semua individu hasil penglepasliaran dari program penangkaran. Lebih khusus lagi, Jalak Putih yang dahulunya persebarannya sangat luas dari Pulau Jawa, Pulau Bali hingga Lombok. Saat ini kondisi populasi Jalak Putih di alam hanya dapat dijumpai pada beberapa lokasi saja, seperti di Cagar Alam (CA) Pulau Dua, SM Muara Angke, Taman Nasional (TN) Baluran, TN Alas Purwo, TN Bali Barat, dan di Pulau Nusa Penida. Diperkirakan total populasinya tak kurang dari 85 individu.

Gambaran Jalak putih dengan postur tubuh sekitar 23 cm dan mayoritas bulu berwarna putih. Jalak putih dewasa hampir seluruh bulunya berwarna putih kecuali bagian ekor sayap yang berwarna hitam. Sedang pada burung muda, bagian kepala, leher, punggung, dan penutup sayap berwarna kelabu. Di sekitar mata terdapat kulit yang tidak ditumbuhi bulu dan berwarna kuning, iris mata coklat tua, paruh kekuningan, dan kulit kaki kuning. Ada tiga ras Jalak Putih, yaitu ras Jawa dan Madura (Sturnus melanopterus melanopterus), ras pulau Bali (Sturnus melanopterus tertius), dan ras peralihan di ujung Jawa timur (Sturnus melanopterus tricolor). Pada ras Jawa dan Madura, burung jalak putih memiliki punggung dan penutup sayap berwarna putih, sedangkan pada dua ras lainnya berwarna lebih kelabu. Jalak Putih hidup secara berpasangan atau dalam kelompok kecil yang hidup mendiami hutan dataran rendah dan hutan monsun.

The relesed Black winged starling (Sturnus melanopterus)

The relesed Black winged starling (Sturnus melanopterus)

Secara umum, burung jalak sangat toleran dan dapat beradaptasi dengan perubahan ekosistem. Justru tekanan terhadap penurunan populasinya lebih didominasi karena penangkapan untuk memenuhi minat para pemelihara burung. Saat ini Jalak putih hanya hidup di habitat-habitat yang kecil dan berada di bawah tekanan yang hebat untuk tetap bisa bertahan hidup. Survei populasi yang dilakukan tahun 2003/2004 dan pertemuan Internasional membahas tentang strategi untuk melestarikan Jalak putih di tahun 2006, telah merekomendasikan pembangunan program penangkaran konservasi Jalak putih di Indonesia untuk tujuan akhir yaitu reintroduksi. Keluaran dari program ini untuk menyediakan individu baru secara genetis Jalak putih yang dapat digunakan untuk program reintroduksi, serta diperuntukan untuk tujuan studi biologi terhadap jenis yang kurang dikenali, mengingat tujuan jangka panjang program ini akan terus berlangsung dan dalam memperluas persebaran Jalak putih. Program pelepasan satwa kembali ke habitatnya merupakan hasil akhir sementara dalam sebuah alur dari proses rehabilitasi satwa-satwa hasil penitipan satwa di pusat-pusat penyelamatan.

Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT) yang mengelola Lembaga Konservasi Khusus berbentuk Pusat Penyelamatan Satwa (PPSC) telah melakukan beberapa kali kegiatan pelepasaliaran yang penting bagi kehidupan satwa itu sendiri dan lingkungan hidup di sekitar tempat pelepasan termasuk Jalak Putih. Mengapa? Karena keuntungan yang didapat sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Jalak Putih sangat berperan dalam siklus rantai makanan untuk mengendalikan kondisi ekosistem melalui pengendalian ulat dan serangga yang sering menjadi hama bagi petani.

Sejak tahun 2008, PPSC telah memulai mengembangbiakan Jalak Putih (dari 9 indukan) dan saat ini berkembang hingga mencapai 200 individu. Program penangkaran Jalak Putih ini didasari atas orientasi untuk dilepasliarkan dalam upaya memulihkan populasi di alam. Dalam proses pengembangbiakan tersebut, baik penanganan dan fasilitasi yang disediakan bersifat alami, serta penanganan dan perawatannya dikerjakan secara akurat dan teliti agar satwa tetap merasakan atmosfir habitat aslinya. Kemudian pelatihan untuk mengasah perilaku alaminya pun dikembangkan secara teratur, seperti latihan terbang, mencari makanan secara mandiri, berkompetisi dengan kawanannya dan bertahan hidup. Program pengembangbiakan species terancam punah ini disebut juga Penangkaran non-komersial, atau Cikananga Conservation Breeding Center (CCBC), mempunyai tujuan untuk menangkarkan spesies yang terancam punah, seperti Jalak Putih (Sturnus melatidak pterus) dan Babi Kutil (Sus verrucosus), untuk kemudian di-reintroduksi kembali ke habitat yang aman di daerah distribusi alaminya, dan dengan program ini bertujuan dapat membangun populasi-populasi baru di alam untuk mencegah spesies tersebut dari kepunahan. Induk dari penangkaran tersebut diperoleh dari beberapa Lembaga Konservasi Eks-situ, dan dari Kementrian Kehutanan (PHKA).

Beberapa demo kegiatan penglepasliaran telah dimulai bulan Maret tahun 2012 (25 ekor) di kawasan Cikananga-Sukabumi, dan bulan April tahun 2013 (40 ekor ) di kawasan Taman Nasional Halimun-Salak, kluster Pongkor, Bogor.

The relesed Black winged starling (Sturnus melanopterus) in Cikananga (left side) and in Pongkor (right side)

The relesed Black winged starling (Sturnus melanopterus) in Cikananga (left side) and in Pongkor (right side)

Posted in CCBC.