Menjaga Keanekaragaman Hayati dari Desa Penyangga Gunung Sawal

Bagi masyarakat Desa Mandalare, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, hutan bukan hanya ruang yang berada di sekitar desa. Hutan menyediakan air, menjadi tempat hidup berbagai tumbuhan dan satwa liar, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Desa Mandalare merupakan salah satu desa penyangga Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Sejak 2024, desa ini menjadi salah satu lokasi model pelaksanaan Javan Green Magpie Program yang diinisiasi oleh Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT). Program ini dibangun berdasarkan berbagai informasi yang dikumpulkan sejak 2022 melalui survei sosial-ekonomi, survei habitat, serta pemantauan perdagangan dan perburuan satwa liar. Salah satu temuan penting berasal dari survei habitat menggunakan metode Passive Acoustic Monitoring (PAM), yang berhasil merekam keberadaan Ekek-geling Jawa (Cissa thalassina) di Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Temuan tersebut kemudian diperkuat melalui orientasi dan survei lanjutan mengenai kondisi sosial masyarakat, dukungan pemerintah desa, ancaman terhadap satwa liar, serta potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki desa penyangga di site tersebut.

Desa dengan Komitmen terhadap Lingkungan

Sebagai desa penyangga kawasan Suaka Margsatwa Gunung Sawal, Desa Mandalare memiliki kepentingan langsung terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Ketersediaan air, kondisi tanah, hutan, serta keberadaan tumbuhan dan satwa liar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Komitmen tersebut sebenarnya telah tercermin dalam sejumlah kebijakan desa. Mandalare telah memiliki Peraturan Desa Mandalare Nomor 8 Tahun 2017 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Adat serta Peraturan Desa Mandalare Nomor 3A Tahun 2017 tentang Perburuan Satwa di Dalam dan Luar Kawasan Hutan. Keberadaan peraturan tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dan satwa liar bukanlah hal yang sepenuhnya baru bagi masyarakat Mandalare. Tantangannya adalah bagaimana kebijakan tersebut dapat terus diterapkan dan menjadi bagian dari praktik sehari-hari masyarakat. Melalui Javan Green Magpie Program, YCKT kemudian mendorong penguatan upaya konservasi yang melibatkan masyarakat dan Pemerintah Desa Mandalare, dengan memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki desa.

Dari Berburu Menjadi Mengamati

Salah satu perubahan yang mulai terlihat adalah keterlibatan masyarakat dalam pengamatan keanekaragaman hayati. Pada awal 2026, masyarakat Mandalare membentuk Kelompok Biodiversitas Mandalare, yang anggotanya memiliki latar belakang usia, pendidikan, dan pekerjaan yang beragam. Di dalam kelompok ini juga terdapat masyarakat yang sebelumnya pernah memanfaatkan burung kicau dari alam untuk dipelihara. Kini, sebagian dari mereka mulai mengambil peran yang berbeda: bukan lagi mengambil satwa dari alam, tetapi mengamati dan mencatat keberadaannya. Masyarakat secara rutin melakukan pengamatan satwa liar di lokasi-lokasi yang sebelumnya dikenal sebagai tempat berburu, seperti Blok Aki Umur di Dusun Panyingkiran dan Blok Gembor di Dusun Taringgul.

Gambar. Masyarakat melakukan pengamatan satwa liar di hutan desa sebagai kegiatan rutin

Pengamatan juga dilakukan di beberapa lokasi lain yang memiliki potensi keanekaragaman burung. Dari kegiatan tersebut, masyarakat menemukan berbagai jenis burung seperti Sikatan Cacing, Empuloh Janggut, Cekakak Batu, Paok Pancawarna, dan Raja-udang Meninting. Bagi Kelompok Biodiversitas Mandalare, setiap perjumpaan menjadi informasi penting untuk memahami kekayaan hayati yang masih dimiliki desa. Masyarakat juga mulai mencatat keberadaan sarang dan lokasi berkembang biak burung. Beberapa jenis burung migran, seperti Sikatan Mugimaki dan Cikrak Kutub, turut dijumpai ketika musim migrasi. Kegiatan sederhana seperti mengamati, mencatat, dan mendokumentasikan satwa perlahan membangun cara pandang baru: bahwa keanekaragaman hayati yang ada di sekitar desa merupakan potensi yang perlu dijaga.

Ketika Masyarakat Menjaga Wilayahnya Sendiri

Perubahan tersebut juga terlihat dalam upaya mencegah perburuan satwa liar. Pada 2025, YCKT memfasilitasi pemasangan rambu larangan berburu bersama masyarakat di salah satu batas Desa Mandalare. Inisiatif tersebut kemudian dilanjutkan secara mandiri oleh Pemerintah Desa dan masyarakat dengan menambah rambu di sejumlah lokasi, termasuk batas desa, jalan menuju hutan, dan titik-titik yang dianggap strategis. Bagi masyarakat, keberadaan rambu tersebut bukan sekadar papan larangan. Rambu menjadi pengingat bahwa kegiatan berburu bukan hanya persoalan antara pemburu dan satwa, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat menjaga lingkungan desanya. Upaya pencegahan juga dilakukan ketika masyarakat menemukan aktivitas perburuan secara langsung maupun menerima laporan dari warga. Aktivitas tersebut antara lain dilakukan oleh pemburu dari luar Desa Mandalare, bahkan dari luar Kabupaten Ciamis, yang memasuki kawasan hutan dengan membawa senapan atau anjing pemburu.

Gambar. Masyarakat memasang papan larangan berburu di jalan akses menuju ke hutan.

Ancaman di Balik Potensi

Di tengah potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki Mandalare, tekanan terhadap satwa liar masih menjadi tantangan. Permintaan terhadap burung kicau membuat berbagai jenis burung tetap menjadi sasaran penangkapan dari alam. Tidak hanya burung, satwa liar lainnya juga menghadapi ancaman perburuan. Sebagian pemburu menyebut kegiatan tersebut sebagai hobi atau olahraga. Namun bagi satwa liar, aktivitas berburu tetap menjadi tekanan yang dapat mengurangi keberadaan satwa di habitatnya, terutama ketika berlangsung secara berulang. Karena itu, menjaga keanekaragaman hayati di Mandalare tidak cukup hanya dengan mengetahui jenis satwa yang masih ada. Masyarakat juga perlu memahami ancaman yang dihadapi satwa tersebut dan mengambil bagian dalam menguranginya.

Dari Pengamatan Menuju Pemanfaatan Berkelanjutan

Pengamatan yang dilakukan masyarakat kini mulai diarahkan untuk melihat bagaimana potensi keanekaragaman hayati dapat dikelola secara berkelanjutan. Beberapa lokasi yang dianggap memiliki potensi mulai ditata secara sederhana untuk mendukung kegiatan pengamatan burung. Masyarakat, misalnya, membuat hide sederhana untuk mengamati Paok Pancawarna, Raja-udang Meninting, Takur Ungkut-ungkut, dan Pelanduk Topi Hitam. Kamera jebak juga digunakan untuk mendukung dokumentasi keberadaan satwa. Ke depan, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada pengamatan. Kelompok Biodiversitas Mandalare juga mulai mempersiapkan peningkatan kapasitas masyarakat sebagai pemandu untuk kegiatan wisata minat khusus berbasis keanekaragaman hayati. Pendekatan ini membuka peluang agar keanekaragaman hayati tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai potensi desa yang dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan tanpa harus mengambil satwa dari alam.

Menjaga Biodiversitas Adalah Tanggung Jawab Bersama

Perjalanan konservasi di Mandalare masih panjang. Namun perubahan mulai terlihat ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi tentang konservasi, tetapi mulai terlibat dalam mengamati, mendokumentasikan, menjaga, dan mengelola potensi keanekaragaman hayati di wilayahnya. Kelompok Biodiversitas Mandalare terus membangun koordinasi dengan berbagai unsur di desa, termasuk Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa, Karang Taruna, kelompok ekonomi desa seperti BUMDes dan LMDH, lembaga keagamaan, serta satuan pendidikan.

Tujuannya sederhana: agar menjaga keanekaragaman hayati tidak menjadi tanggung jawab satu kelompok saja.

Dari Desa Mandalare, harapannya upaya konservasi Ekek-geling Jawa berkembang menjadi cerita yang lebih luas ke seluruh wilayah penyangga Gunung Sawal, tentang masyarakat yang mulai mengenali kembali kekayaan alam di sekitarnya, menghadapi ancaman bersama, dan mencari cara agar manusia dan keanekaragaman hayati dapat terus hidup berdampingan. Karena pada akhirnya, menjaga hutan dan satwa liar bukan hanya tentang mempertahankan apa yang ada di alam. Ini juga tentang menjaga hubungan masyarakat dengan lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.